Rabu, 15 Juni 2011

Cerpen Inggit Putria Marga

Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.
Minggu, 1 Februari 2009

Cerpen Inggit Putria Marga

Karma

TERLAHIR sebagai perempuan dan melanjutkan hidup di dusun bernama Biru Berlian, tinggallah aku: Yue, di sebuah rumah dengan beberapa jenis makhluk. Ada yang sejenis denganku (jenis yang kau kenal sebagai manusia, yang kemudian kusebut sebagai keluarga). Jumlah manusia yang hidup satu rumah denganku sebanyak empat, para manusia itu memiliki panggilannya sendiri, yakni ibu, bapak, kakak, dan adik.

Aku juga tinggal bersama makhluk berjenis hewan, semacam semut, nyamuk, kecoa, cacing, katak, ayam, kucing, beruk, dan beragam kutu yang kurang begitu kuakrabi nama-namanya. Sebagian dari mereka tinggal dalam rumahku; menetap di tikar, di celah-celah kayu jendela, pintu, dinding rumah, di lipatan-lipatan baju, di dapur, tapi ada pula yang bermukim di kulit, rambut, bahkan isi perut aku dan keluargaku.

Sebagian lagi, semisal katak, beruk, dan ayam, menetap di luar rumahku. Mereka memiliki rumahnya sendiri, tapi masih satu pagar dengan rumah keluargaku. Bersama hewan-hewan itu, keluargaku hidup rukun. Hubungan kami harmonis, begitu manis bagai tapai ketan atau kue pukis.

Di dalam rumah, tinggal juga makhluk-makhluk yang tubuhnya hanya dapat berpindah tempat jika ada yang berkenan memindahkan. Keluargaku menyebut mereka sebagai perabotan. Beberapa bagian tubuh manusia atau tubuh hewan, juga dimiliki makhluk berjenis ini. Hanya, fungsinya tidak seluruhnya sama. Contohnya ada di salah satu perabotan yang bernama kursi.

Seperti aku dan keluargaku, juga beruk atau ayam, kursi memiliki kaki untuk menopang tubuhnya supaya dapat kokoh berdiri. Tapi, kursi tidak pernah menggunakan kakinya untuk berjalan. Akibatnya, apabila aku, misalnya, sedang dikuasai sedih atau marah yang mengilat, sehingga berjalan di dalam rumah dengan mata lupa melihat, aku kerap menabrak kursi itu. Ia sering terjungkal, tapi entah mengapa, tak sekalipun padaku, ia pernah menyiratkan raut dendam atau kesal.

Setiap bertabrakan dengannya, tubuhku jadi pegal. Amarah atau sedihku pun semakin berwujud mendung tebal. Kerap kuhujankan ludahku pada dia yang terjungkal. Dia diam saja, hening dalam kekayuan yang kekal. Mengapa kau tak menghindar, bengal?, makiku.

Kadang-kadang, kala aku memandang kursi dan di saat yang sama kursi itu memandang aku, aku merasa ada hantu kemalasan yang menjangkiti dirinya, kekuatan halus yang membuatnya tak ingin melarikan diri agar selamat dari amukan langkahku. Langkah yang sering brutal, bila awan marah atau awan sedih menggayuti mataku tak ubahnya genangan kopi kental.

Pernah aku tak habis pikir pada jalan pikiran kursi itu, mengapa dia dingin saja bila teraniaya. Padahal, bukan hanya penganiayaanku yang diterimanya. Kucing yang bila malam tidur di dekat tungku dan tumpukan kayu di dapur keluargaku, tak hanya sekali kusaksikan memberaki kursi pendiam itu. Setelah berak, kucing melompat dari dirinya. Berjalan lengang sambil sesekali menoleh dan melontarkan suara cukup misterius padanya. Kursi pun menatap kucing, tapi kursi hanya hening.

Ibuku marah sekali setiap menemukan kotoran kucing terbaring di atas kursi. Perempuan tua itu akan mencari-cari kucing untuk meminta penjelasan, mengapa tidak berak di tempat yang telah jadi kesepakatan. Tapi, kucing malah melancong entah ke mana, sehingga ibu yang kedongkolannya tak tersalurkan segera menggerutui si kursi, mengapa kau tak menghindar, bengal!, maki ibu.

Belum lagi kaki kakakku yang sering menginjaknya setiap ingin mengambil sesuatu yang tinggi letaknya, yang apabila kursi tak kuat menahan berat tubuh kakakku, ia akan bergoyang. Hal ini menyebabkan jantung kakakku berdegup lebih kencang. Kakakku akan gugup saat kursi itu bergoyang. Biasanya ia tak jadi mengambil yang ingin ia ambil. Ia akan turun dari kursi itu, menendangnya, lalu mengambil tangga atau benda lain yang lebih kokoh untuk pijakkan kakinya.

Setiap pagi, sebelum pergi sekolah atau bermain, adikku selalu duduk, memasang sepatu, sambil sesekali meletakkan kentut di kursi itu. Entah apa perasaan kursi pemurung itu, sehingga ketika adikku selesai kentut lalu pergi sekolah atau bermain, kursi tak juga bergerak meninggalkan rumahku. Ia tetap di tempatnya, dingin bersahaja menanti aniaya berikutnya, menunggu pantat-pantat yang membuatnya memiliki peran di dunia, pantat dan seisinya, pantat dan segala yang tersimpan dan keluar dari lubangnya, pantat dan bagian tubuh lain yang berhubungan dengannya, pantat yang ia butuhkan dan barang kali masih membutuhkannya.

Tapi, kesenyapan kursi itu, lama kelamaan membuatku bosan. Barangkali aku termasuk jenis manusia yang membutuhkan sebuah perlawanan, supaya hari-hari di planet ini tetap menarik untuk dilanjutkan. Tapi, tidak juga, setelah kurenung-renungkan, ketenangan yang dimiliki kursi itu, meski tanpa alasan yang jelas, terasa begitu palsu.

Bagiku, ia seperti hendak menipu (atau mengejekku) dengan keheningannya setiap kali makhluk lain menderanya dengan aniaya. Lantas hari ke hari kemuakanku padanya makin mendidih. Bagai cairan timah panas yang menunggu tempat untuk bertetesan, aku tak mampu menahan kebencian yang menajam pada sebuah kursi yang sarat dengan kepura-puraan.

Suatu siang, aku menyeret kursi itu ke luar dari rumahku. Di halaman rumah, sejenak kupandang ia berkilau. Ternyata, dia cukup berkharisma saat diselubungi matahari yang sedang bersinar lembut seperti serbuk bunga kemangi. Tapi, aku tak ingin lama-lama peduli. Kutinggalkan kursi itu sendirian di pekarangan. Aku pergi ke dapur, mengambil alat-alat yang kubutuhkan untuk menyelenggarakan upacara pembakaran. Dari jendela dapur, sekilas kusaksikan kursi itu seperti menyerap begitu banyak energi dari matahari. Saat itu, ia amat menakutkanku. Keringatku bercucuran. Dalam pandanganku, kursi itu bagai endapan teror yang mesti segera aku lenyapkan supaya seisi rumahku dapat terselamatkan, terbebas dari malapetaka pembalasan dendam si kursi yang penuh kemunafikan.

Aku tak dapat ditipu oleh kursi yang munafik. Di mataku, sekejap, mengambang jelas sejumlah peristiwa yang telah aku, keluargaku, dan kucing yang menetap di rumahku, lalui bersama kursi itu. Keheningannya saat menerima ludahku, kepasrahannya menerima kotoran yang dibaringkan kucing pada dirinya.

Kesabarannya menerima makian ibuku, penghayatannya terhadap tendangan kakak dan kentut adikku. Sikap senyap yang ditunjukkannya itu adalah suatu kesengajaan, kepura-puraan, yang tak lain-tak bukan memiliki tujuan agar kami lupa, agar kami terperdaya, agar kesadaran kami bahwa ia sesungguhnya telah membalaskan dendam, pupus karena pesona ketenangannya.

Aku tak lupa ketika selesai menabraknya, selalu ada bagian tubuhku yang memar atau luka. Tapi, kucing lupa bahwa setelah memberaki kursi, ia akan dikejar-kejar ibuku, yang apabila berhasil menangkapnya, ibuku akan memukul dengan gagang sapu, hingga kucing pun pincang kakinya. Kakakku lupa bahwa kepalanya telah beberapa kali membentur lantai dan berdarah, akibat menggunakan kursi itu sebagai pijakan kakinya untuk mengambil yang ingin diambilnya. Ibuku lupa bahwa ia harus berkali-kali mengalami penyakit hidung setelah membersihkan kotoran kucing yang terbaring di kursi itu. Adikku lupa bahwa pantatnya sering bengkak karena kutu yang bersemayam di kursi itu menolak kentutnya. Akibat semua kelupaan itu, mereka, makhluk-makhluk selain aku, menganggap kursi itu sebagai mahluk biasa, lemah alias tak berdaya.

Namun, maaf, anggapan itu tak berlaku bagiku. Menurutku, dia makhluk yang gila. Ia benar-benar gila. Ia lebih sadis dari kesadisan tersadis. Ia mesti dilenyapkan dari dunia, bagaimanapun caranya, sebelum semakin banyak makhluk yang tertipu oleh topeng kesenyapannya.

Di halaman rumahku, dari jendela dapur, aku melihat kursi itu masih menyerap energi matahari. Apa yang ia rencanakan? Apakah ia dapat menebak apa yang padanya akan kulakukan? Apa ia akan memberikan perlawanan? Apa ia akan menggunakan kakinya untuk berjalan? Apa ia akan berlari mencariku lalu menendangku sampai pingsan? Pikiran itu berombak dalam otakku. Kemudian, sambil membawa sekotak korek api dan sebotol minyak tanah yang isinya sedikit terhambur, aku melangkah tergesa meninggalkan dapur.

Kini aku tak akan menghujanimu dengan ludahku, saat aku tiba di halaman rumah dan mengucapkan kalimat itu pada si kursi, sinar matahari masih lembut bagai serbuk kembang kemangi. Angin sekali-sekali saja menegaskan kehadirannya dengan membuat riap rambutku menari-nari. Keempat manusia dan mahluk-mahluk lain yang hidup serumah denganku, sebagian pergi sebagian lagi tak peduli pada peristiwa yang sedang berlangsung di antara kami.

Kursi senyap lagi. Kusiramkan minyak tanah ke dirinya, lantas aku menyalakan sebatang korek api. Kupandangi api yang menyala di batang korek api di tanganku, nadi di pergelanganku seperti memompakan sesuatu ke jari-jariku. Jari-jari yang akan segera menuntaskan sebuah tugas besar. Sebuah penyelamatan.

Dalam sekejap, selepas batang korek api kuluruhkan di kursi itu, aku pun menjelma penonton. Kursi terbakar. Ia jadi bentuk lain energi. Kursi memekarkan kelopak-kelopak api. Sebagai penonton aku cukup dingin dalam menyikapi adegan-adegan yang berlangsung dalam pertunjukan di depanku. Aku berusaha tidak mengeluarkan reaksi emosional bila ada adegan yang memiliki energi kuat untuk menarik perhatian. Aku tak ingin bertepuk tangan, tak ingin menangis atau tertawa bila ada adegan-adegan yang mendatangkan keterharuan. Aku ingin bersahaja saja menerima keberhasilan dari kerja kepahlawananku.

Aku tak ingin terpukau pada asap dan percik api yang berkelipan di udara. Asap dan percik api yang hanya menegaskan kebenaran dugaanku terhadap kemunafikan kursi itu. Asap dan percik api yang membuat bapakku menggebuki aku (saat pulang dari pergi, ia melihatku sedang meditasi menonton kobaran api di kursi). Dia peninggalan almarhum buyutmu, kata bapakku. Buyut? Siapa buyutku?, aku agak bingung dalam hati.

Tubuhku memar. Setelah puas memukuli aku di depan kobaran api, bapakku masuk ke rumah sambil menangis. Suara tangisannya tak lebih merdu dari ringkikan kuda liar. Bersama memar tubuhku dan suara tangisan hambar dari mulut bapakku, kusaksikan api telah mengubah kursi itu hampir seluruhnya menjadi abu. Tiba-tiba lampu kesadaran baru bagai menyala di kepalaku. Bahaya.

Abu-abu yang dikendarai dan mengendarai angin. Kursi versi baru yang mampu terbang dan menyusup ke mana dia ingin: ke mahluk-mahluk, ke dusun-dusun, ke kota-kota, ke negara- negara, ke benua-benua, ke planet-planet, ke semesta-semesta, ke langit-langit, ke dimensi-dimensi yang lain. Ia akan mengenakan topeng-topeng, memainkan peran-peran, menyimpan niat-niat, memeram kemunafikan-kemunafikan, menipu jenis-jenis mahluk yang lain dengan kesadisan yang lebih dingin.

Sebagai abu, kursi itu pasti lebih mudah menipu. Si munafik itu terlihat lebih rapuh, terkesan lebih halus, lebih tak disadari kehadirannya dan lebih mudah menjangkau tempat-tempat yang sebelumnya tak dapat diraihnya. Ia akan berpura-pura pasrah diombang-ambingkan angin. Ia akan berlagak rela ketika tersedot hidung yang runcing maupun tak runcing. Padahal, hidung-hidung yang menyedot itu akan gatal berkoreng-berlendir dan bila para pemilik hidung itu tak menyadari keberadaan abu tersebut, bukan tak mungkin sang abu mampu menjelajah ke tempat yang lebih jauh lagi, misalnya, kalbu.

Aku tak ingin membayangkan apa yang terjadi bila abu kursi itu menemukan tempat persemayamannya di kalbu, apalagi karena yang membuat kursi munafik itu berhasil menjadi abu adalah aku.

Perasaan bersalah karena telah bertindak gegabah dan kesadaran terhadap bahaya yang tiap malam membuatku resah, menggerakkan hatiku bercerita padamu. Dengan harapan kau dan jenis makhluk lain akan meningkatkan kewaspadaan. Sebab sebagaimana kehidupanku, sebagaimana diriku, barangkali, tanpa kau sadari, saat ini kursi yang telah berubah jadi bentuk yang lebih membahayakan itu, pelan-pelan jadi bagian dalam kehidupanmu. Jadi dirimu.

2008

Inggit Putria Marga, lahir di Bandar Lampung, 1985