Rabu, 15 Juni 2011

Esai Purnawan Andra

Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.
Minggu, 22 Februari 2009

Wacana: Musik sebagai Bahasa Universal

SIAPA yang lupa lagu Imagine karya John Lennon? Lagu itu selalu menjadi soundtrack penayangan berita kekerasan di televisi seperti perang.

Dekade 80-an, Michael Jackson bersama banyak musisi kulit hitam menyanyikan We are the World untuk merespons kelaparan dan politik apartheid di Afrika Selatan.

Festival Glastonburry di Inggris, Woodstock di Amerika Serikat, LiveAids Festival adalah contoh beberapa festival musik yang selalu mengusung isu-isu mutakhir dunia seperti masalah lingkungan, kesehatan atau politik.

Bruce Springsteen dan Bono (U2) adalah contoh penyanyi yang mengkritisi kondisi politik dunia lewat lirik lagu-lagunya. Dengan lagu, mereka bersuara dan mampu berdialog sejajar dengan para pemimpin dunia.

Kesenian dalam masyarakat memang mempunyai posisi, fungsi, dan pemaknaan yang lekat dengan kebutuhan akan estetika, etika, spiritualitas, identifikasi, komunalitas juga ekonomi. Kekayaan multidimensi yang dimiliki seni termasuk musik sesungguhnya mampu membuka kemungkinan yang mampu dilakukan dalam kehidupan lokal bahkan global.

Eksistensi musik dapat dilihat dari kedudukannya sebagai teks dan konteks dalam masyarakat (Shin Nakagawa, 2000). Musik bukan hanya ekspresi bunyi (teks) yang menghibur secara dangkal atau semata tontonan. Musik adalah ruang pembacaan yang lebih kritis tentang identitas, tradisi, modernitas, dan sejarah musik itu sendiri (konteks).

Musik juga mampu berperan sebagai sebuah tuntunan laju dan arah peradaban manusia yang lebih baik. Usaha ini menjadi salah satu praktek penting untuk memproduksi kebudayaan sebagai sebuah "pengalaman berbagi" (Stuart Hall, 1997).

(Pem)bingkai(an)

Selama ini perkembangan dan pandangan tentang musik tidak dapat dilepaskan dari semangat zaman yang memberinya makna. Dalam sejarah perkembangannya, musik ditempatkan dalam aneka "bingkai" (frame) dan "pembingkaian" (framing) yang di dalamnya konsep, bentuk, prinsip, definisi, dan ekspresinya dibatasi baik melalui bingkai antropologis, sosiologi, ekonomi maupun kultural.

"Pembingkaian" adalah proses pembentangan "horizon" atau "dunia kemungkinan" (possible worlds) sekaligus penutupannya (Piliang, 2008), dalam konteks sosiologis, antropologis, politik, ekonomi, dan budaya.

Modernitas mendekonstruksi cara pandang seperti ini dengan meletakkan musik dalam sebuah medan transkultural, menekankan kaitan antara "struktur suara musik" dan "struktur kebudayaan" di mana musik itu hidup dan berkembang.

Musik berada dalam ruang yang memungkinkannya bertemu, bersilangan, bersimbiosis, berdialog, bercampur dengan unsur lain yang beragam, membuka aneka "ruang kemungkinan" dan pandangan baru tentang musik itu sendiri.

Dalam horizon yang tak terbatas tersebut, orang dapat menemukan "potensialitas" pemahaman tentang musik, yang tak terbayangkan, tak terpikirkan, dan tak terimajinasikan sebelumnya. Musik dapat menjadi sarana mencari hubungan antara struktur suara musik di satu pihak, serta masyarakat dan budaya di pihak lain.

Pembukaan ruang bagi reinterpretasi musik untuk menelusuri apa yang tersembunyi di dalam bahasa, apa yang ditangguhkan melalui tanda, apa yang ditunjuk, apa yang direpresikan (Fisher, 1986). Pembacaan musik membuka ruang bagi persandingan dua atau lebih tradisi kebudayaan melalui kolaborasi dengan hal lain.

Musik mampu berlaku sebagai wacana dan wahana urun suara dalam pusaran ide dunia kontemporer. Musik adalah sebuah "percakapan besar kebudayaan", representasi beragam maksud dan pemikiran, yang luruh menampung semua pendekatan artistik. Alat musik hanyalah media, sementara spirit yang mendasarinya adalah kebersamaan. Dan kebersamaan akan membangun dan menumbuhkan sesuatu yang baik.

Musik seharusnya bisa dilihat sebagai sebuah prinsip aransemen, susunan, dan ekspresi tanpa bingkai; sebagai susunan dinamis. Sebuah "himpunan" yang dibangun elemen-elemen musik (suara, nada, alat musik, aransemen, panggung) serta elemen-elemen lain nonmusik (elemen sosial, psikis, politik, budaya bahkan spiritualitas) dengan membentangkan cakrawala dan horizon luas yang mengintegrasikan musik dengan makna eksistensi kita.

Dalam musik tanpa bingkai itu kita mendapatkan visi pencerahan, arti kehidupan manusia dalam kemenyeluruhannya. Musik tanpa bingkai adalah bentuk disorganisasi hal-hal yang membingkainya. Yang dipentingkan di dalamnya adalah hubungan dinamis dan jejaring antara elemen-elemen pembangunnya (alat, teknologi, tubuh, sosial, politik, ekonomi, kultural) membuka ruang perbedaaan tanpa akhir.

Dengan itu musik dapat bekerja di luar dikotomi yang selama ini membangunnya, dan memperluas segala horizonnya: epistemologi, ekonomi, sosil, politik, kultural dan spiritual. Musik tidak lagi berurusan dengan musik an sich, tapi dengan segela elemen yang selama ini dianggap nonmusik seperti panggung, fashion, tata rias, desain komunikasi menusik, material, dan teknologi musik.

Industri Kreatif

Perluasan horizon pada saat yang sama membuka kemungkinan "industri kreatif". Terlebih saat ini tuntutan budaya post-modern dan masyarakat industri kreatif telah menuntut musik memperluas horizon, dengan membuka kemungkinan dunia yang beraneka ragam.

Memperluas horizon berarti menyintesa horizon masa lalu (sejarah) dan masa depan, memperluas medan kerja dan cara kerja musik. Musik kini tidak lagi melulu berurusan dengan suara, tapi mungkin juga dengan gerak, bentuk, bau-bauan dan citra. Tidak lagi dengan seni budaya, tapi juga dengan politik.

Inilah dasar pemikiran multikulturalisme kritis (Danusiri, 2004) yang tidak mengeksploitasi makna kebudayaan, tapi mengeksplorasinya di masyarakat sehingga relevan dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Musik dalam rangka multikulturalisme kritis adalah musik yang melampaui batas-batas dan menawar keragaman.

Musik menjadi tonggak sebuah rekonsiliasi kultural yang menumbuhkan pemahaman bahwa musik bukan sekadar instrumen dan bunyi, melainkan sarana komunikasi mempererat relasi antarwarga, suku, golongan, bahkan bangsa.

Purnawan Andra, civitas academica Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta