Rabu, 15 Juni 2011

Menggedor Hollywood dengan Ironisme Mumbai

Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.
Minggu, 22 Februari 2009

Menggedor Hollywood dengan Ironisme Mumbai

CINTA Jamal Malik (Dev Patel) pada Latika (Freida Pinto) seperti asmara Rhoma pada Ani; cinta sejati yang terlunta-lunta karena kondisi ekonomi. Jika sejumlah film romantika Rhoma-Ani bergerak lurus dan terpusat pada hubungan asmara mereka yang bermasalah dan sentimentil, Jamal-Latika hadir sebagai semangat yang menggerakkan alur cerita.

Bukan fokus yang membuat cerita berputar pada percintaan Jamal-Latika; ini yang dihadirkan Danny Boyle dan Loveleen Tandan dalam Slumdog Millionaire.

Jamal Malik, slumdog yang tinggal di kawasan kumuh Mumbai, India. Tak ada yang mengira kalau Jamal akan jadi orang kaya. Ia remaja yatim piatu yang akrab dengan kemiskinan. Ibunya jadi korban keganasan kelompok agama garis keras; Jamal pun hidup bersama kakaknya, Salim, dan seorang tetangga perempuan bernama Latika.

Sayang, Latika, wanita yang membuat hari-hari Jamal berbunga, tak bisa melepaskan diri dari gerombolan mafia untuk dijadikan pengemis jalanan. Jamal dan Salim berhasil lolos. Mereka terdampar di sekitar Taj Mahal, lalu memutuskan menempuh hidup berbeda. Jamal-Salim pun terpisah di tengah kota yang asing.

Danny Boyle, sutradara asal Inggris, tidak ingin membuat drama keluarga yang melulu berlumur air mata. Boyle membungkus romantika kehidupan Jamal dalam sorotan-sorotan flash back yang dimulai dari forum gemerlap kuis Kaun Banega Crorepati (Who Wants to be A Millionaire). Dari acara berhadiah 20 juta rupee inilah kejutan-kejutan cerita mengalir di luar format Bollywood dengan durasi sekitar dua jam. Mumbai yang dicitrakan sebagai kawasan slum di India pun oleh Danny dikemas menjadi latar kota yang memaparkan ironisme kehidupan kontemporer.

Dari Golden Globe

Hari ini adalah penentuan apakah Slumdog Millionaire yang dibintangi Dev Patel, Freida Pinto, Anil Kapoor, dan Irrfan Khan akan menjadi "film impor" pertama yang merajai pasar Hollywood. Meskipun website Los Angeles Times, GoldDerby.com memprediksi Slumdog Millionaire akan keluar sebagai peraih Academy Award 2009 untuk kategori Film Terbaik, film peraih Golden Globe 2009 kategori Best Picture ini harus bersaing dengan The Curious Case of Benjamin Button. Slumdog meraih 10 nominasi, The Curious garapan David Fincher dengan bintang Brad Pitt ini meraih 13 nominasi. Lalu, masih ada tiga unggulan lain, yakni Changeling, The Dark Knight, dan The Reader.

Slumdog Millionaire langsung masuk kategori Film Terbaik tahun ini setelah menyabet empat piala Golden Globe untuk kategori Best Motion Picture-Drama, Best Director-Motion Picture (Danny Boyle), Best Screenplay (Simon Beaufoy), dan Best Original Score (A.R. Rahman). Dari Golden Globe ini, prediksi yang menempatkan Slumdog Millionaire sebagai Film Terbaik Academy Award ke-81 pun berdatangan.

Untuk kategori nominasi Film Terbaik, Slumdog Millionaire├┐20memang bukan film Asia pertama yang masuk kandang Oscar. Film Crouching Tiger, Hidden Dragon arahan sutradara Taiwan, Ang Lee, lebih dahulu masuk nominasi Oscar tahun 2001. Meski tidak meraih puncak Academy Award, film yang dibintangi aktor senior Chow Yun Fat dan Michelle Yeoh ini--disebut-sebut menelan biaya produksi sekitar 15 juta dolar AS atau sekitar Rp165 miliar--itu meraih 9 kategori nominasi. Apakah Slumdog Millionaire akan menjadi film Asia pertama yang meraih gelar Film Terbaik Academy Award?

Menembus Industri Hiburan

Masuknya Slumdog Millionaire sebagai film unggulan Oscar 2009 memang patut diberi apresiasi luas. Di luar sisi sinematografi yang telah diperlihatkan Danny Boyle dengan raihan beberapa penghargaan Golden Globe-nya, Slumdog Millionaire juga menjadi ikon kreatif tersendiri bagi insan perfilman Asia.

Seperti dikatakan sineas Garin Nugroho, Academy Award bukan semata ajang dunia yang menjaring film-film berkualitas. Bagi Garin, festival tahunan yang digelar di Hollywood itu sekaligus menjadi kekuatan legitimasi perfilman suatu negara memasuki pasar film dunia. Aspek ini juga yang membuat Slumdog Millionaire menjadi pembicaraan publik perfilman begitu dinobatkan sebagai salah satu unggulan Academy Award.

Keberhasilan Dev Patel dan Freida Pinto membawa pulang Oscar tentu akan memberikan energi baru bagi industri perfilman Asia, khususnya Bollywood. Bisa jadi, India--juga raksasa perfilman Asia lain, Taiwan--akan terus mengarahkan perfilman sebagai salah satu sektor unggulan peraih devisa. Dan ini sudah dipelrihatkan Amerika Serikat lebih dahulu dengan industri perfilmanannya yang menggurita bahkan terbesar kedua setelah industri militer.

Memang, di negeri Barack Obama ini, perfilman dan industri hiburan lain bergerak luar biasa, melebihi kekuatan industri-industri otomotif. Academy Award atau Oscar menjadi institusi jangkar yang terus menempatkan perfilman sebagai industri besar di AS, dengan kualifikasi mutu yang dikeluarkannya tiap tahun.

Apakah tim American Academy of Motion Picture Arts and Sciences Award akan memilih Slumdog Millionaire sebagai peraih Academy Award tahun ini? n MAT/DARI BERBAGAI SUMBER/P-1